Salamah Bin Al Akwa’

PAHLAWAN PASUKAN JALAN KAKI

Puteranya Iyas ingin menyimpulkan keutamaan bapaknya dalam suatu kalimat singkat, katanya:

“Bapakku tak pernah berdusta … !” Memang, untuk men dapatkan kedudukan tinggi di antara orang-orang shaleh dan budiman, cukuplah bagi seseorang dengan memiliki sifat-sifat ini! Dan Salamah bin al-Akwa’ telah memilikinya, suatu hal yang memang wajar baginya … !

Salamah salah seorang pemanah bangsa Arab yang terke muka, juga terbilang tokoh yang berani, dermawan dan gemar berbuat kebajikan. Dan ketika ia menyerahkan dirinya menganut Agama Islam, diserahkannya secara benar dan sepenuh hati, hingga ditempalah oleh Agama itu sesuai dengan coraknya yang agung.

Salamah bin al-Akwa’ termasuk pula tokoh-tokoh Bai’atur Ridwan. Ketika pada tahun 6 H. Rasulullah saw. bersama para sha habat berangkat dari Madinah dengan maksud hendak berziarah ke Ka’bah, tetapi dihalangi oleh orang-orang Quraisy, maka Rasulullah mengutus Utsman bin Affan untuk menyampaikan kepada mereka bahwa tujuan kunjungannya hanyalah untuk berziarah dan sekali-kali bukan untuk berperang ….

Sementara menunggu kembalinya Utsman, tersiar berita bahwa ia telah dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Rasulullah lalu duduk di bawah naungan sebatang pohon menerima bai’at sehidup semati dari shahabatnya seorang demi seorang. Berceritalah Salamah:

“Aku mengangkat bai’at kepada Rasulullah di bawah pohon, dengan pernyataan menyerahkan jiwa ragaku untuk Islam, lalu aku mundur dari tempat itu. Tatkala mereka tidak berapa banyak lagi, Rasulullah bertanya: “Hai Salamah, kenapa kamu tidak ikut bai’at … !”

“Aku telah bai’at, wahai Rasulullah!” ujarku.
“Ulanglah kembali!” titah Nabi. Maka kuucapkanlah bai’at itu kembali”.

Dan Salaman telah memenuhi isi bai’at itu sebaik-baiknya. Bahkan sebelum diikrarkannya, yakni semenjak ia mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illallah, wa-asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maksud bai’at itu telah dilaksanakan!

Kata Salamah: “Aku berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali, dan bersama Zaid bin Haritsah sebanyak Sembilan kali”.

Salamah terkenal sebagai tokoh paling mahir dalam pepe rangan jalan kaki, dan dalam memanah serta melemparkan tombak dan lembing. Siasat yang dijalankannya serupa dengan perang gerilya, yang kita jumpai sekarang ini. Jika musuh datang menyerang, ia menarik pasukannya mundur ke belakang. Tetapi bila mereka kembali atau berhenti untuk beristirahat, maka diserangnya mereka tanpa ampun … !

Dengan siasat seperti ini ia mampu seorang diri menghalau tentara yang menyerang luar kota Madinah di bawah pimpinan Uyainah bin Hishan al-Fizari dalam suatu peperangan yang disebut perang Dzi Qarad. Ia pergi membuntuti mereka seorang diri, lalu memerangi dan menghalau mereka dari Madinah, hingga akhirnya datanglah Nabi membawa bala bantuan yang terdiri dari shahabat-shahabatnya.

Pada hari itulah Rasulullah menyatakan kepada para sha habatnya: — “Tokoh pasukan jalan kaki kita yang terbaik ialah Salamah bin al-Akwa’ … !”

Tidak pernah Salamah berhati kesal dan merasa kecewa kecuali ketika tewas saudaranya yang bernama ‘Amir bin al Akwa’ di perang Khaibar… .

Ketika itu ‘Amir mengucapkan pantun dengan suara keras di hadapan tentara Islam, katanya:

“Kalau tidak karena-Mu tidaklah kami ‘kan dapat hidayah Tidak akan shalat dan tidak pula akan berzakat
Maka turunkanlah ketetapan ke dalam hati kami Dan dalam berperang nanti, teguhkanlah kaki-kaki kami”.

Dalam peperangan itu ‘Amir memukulkan pedangnya kepada salah seorang musyrik. Tetapi rupanya pedang yang digenggam nya hulunya itu melantur dan terbalik hingga menghujam pada ubun-ubunnya yang menyebabkan kematiannya.

Beberapa orang Islam berkata:         “Kasihan ‘Amir . .. ! Ia terhalang mendapatkan mati syahid!”

Maka pada waktu itu, yah, hanya sekali itulah, tidak lebih Salamah merasa amat kecewa sekali. Ia menyangka sebagai sangkaan shahabat-shahabatnya bahwa saudaranya ‘Amir itu tidak mendapatkan pahala berjihad dan sebutan mati syahid, disebabkan ia telah bunuh diri tanpa sengaja.

Tetapi Rasul yang pengasih itu, segera mendudukkan perkara pada tempat yang sebenarnya, yakni ketika Salamah datang kepadanya bertanya: “Wahai Rasulullah, betulkah pahala ‘Amir itu gugur …?’

Maka jawab Rasulullah saw.:

“Ia gugur bagai pejuang Bahkan mendapat dua macam pahala Dan sekarang ia sedang berenang Di sungai-sungai surga … !”

Kedermawanan Salamah telah cukup terkenal, tetapi ada hal yang luar biasa. Hingga ia akan mengabulkan permintaan orang termasuk jiwanya apabila permintaan itu atas nama Allah … !

Hal ini rupanya diketahui oleh orang-orang itu. Maka jika seseorang ingin tuntutannya berhasil, ia akan mengatakan ke padanya: “Kuminta pada anda atas nama Allah … !” Menge nai ini Salamah pernah berkata: “Jika bukan atas nama Allah, atas nama siapa lagi kita akan memberi … ?”

Sewaktu Utsman r.a. dibunuh orang, pejuang yang perkasa ini merasa bahwa api fitnah telah menyulut Kaum Muslimin, ia seorang yang telah menghabiskan usianya selama ini berjuang bahu-mernbahu dengan saudara seagamanya, tak sudi berperang menghadapi saudara seagamanya

Benar . . . ! Seorang tokoh yang telah mendapat pujian dari Rasulullah tentang keahliannya dalam memerangi orang -orang musyrik, tidaklah pada tempatnya ia menggunakan ke ahliannya itu dalam memerangi atau membunuh orang-orang Mu’min. Itulah sebabnya ia mengemasi barang-barangnya lalu meninggalkan Madinah berangkat menuju Rabdzah . . . , yaitu kampung yang dipilih oleh Abu Dzar dulu sebagai tempat hijrah dan pemukiman barunya.

Maka di Rabdzah inilah Salamah melanjutkan sisa hidupnya, pada suatu hari di- tahun 74 H., hatinya merasa rindu berkunjung ke Madinah. Maka berangkatlah ia untuk memenuhi kerinduan nya itu. la tinggal di Madinah satu dua hari dan pada hari ketiga ia pun wafat …. Demikianlah, rupanya tanahnya yang tercinta dan lembut empuk itu memanggil puteranya ini untuk merangkul nya ke dalam pelukannya dan memberikan ruangan baginya di lingkungan shahabat-shahabatnya yang memperoleh berkah bersama para syuhada yang shaleh ….

Imran Bin Husain

NIENYERUPAI MALAIKAT

Di tahun perang Khaibarlah ia datang kepada Rasulullah saw. untuk bai’at …. Dan semenjak ia menaruh tangan kanan nya di tangan kanan Rasul, maka tangan kanannya itu mendapat penghormatan besar, hingga bersumpahlah ia pada dirinya tidak akan menggunakannya kecuali untuk perbuatan utama dan mulia ….

Ini pertanda merupakan suatu bukti jelas bahwa pemiliknya mempunyai perasaan yang amat halus ….

‘Imran bin Hushain r.a. merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran, sifat zuhud dan keshalehan serta mati-matian dalam mencintai Allah dan mentaati-Nya. Walaupun ia mendapat taufik dan petunjuk Allah yang tidak terkira, tetapi ia sering menangis mencucurkan air mata, ratapnya:  ”Wahai, kenapa aku tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja … !”

Orang-orang itu takut kepada Allah bukanlah karena banyak melakukan dosa, tidak! Setelah menganut Islam, boleh dikata sedikit sekali dosa mereka! Mereka takut dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka beribadat ruku’ dan sujud, tetapi ibadatnya, dan syukurnya itu belumlah memadai ni’mat yang mereka telah terima.

Pernah suatu saat beberapa orang shahabat menanyakan pada Rasulullah saw.:

“Ya Rasulullah, kenapa kami ini … ?

Bila kami sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lunak hingga tidak menginginkan dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat dengan mata kepala … !

Tetapi demi kami meninggalkanmu dan kami berada di lingkungan keluarga, anak-anak dan dunia kami, maka kami pun telah lupa diri …

Ujar Rasulullah saw.:

“Demi Allah, Yang nyawaku berada dalam tangan-Nya! Seandainya kalian selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan menampakkan dirinya

menyalami kamu .. . ! Tetapi, yah yang demikian itu hanya sewaktu-waktu … !”

Pembicaraan itu kedengaran oleh ‘Imran bin Hushain, maka timbullah keinginannya, dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berbenti dan tinggal diam, sebelum mencapai tujuan mulia tersebut, bahkan walau terpaksa menebusnya dengan nyawanya sekalipun!

Dan seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu itu, tetapi ia menginginkan suatu kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus dan tiada henti-hentinya, memusatkan perhatian dan berhubungan selalu dengan Allah Robbul’alamin … !

Di masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab, ‘Imran dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari pen duduk dan membimbing mereka mendalami Agama. Demikian lah di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka demi dikenal oleh penduduk, mereka pun berdatanganlah mengambil berkah dan meniru teladan ketaqwaannya.

Berkata Hasan Basri dan Ibnu Sirin:  ”Tidak seorang pun di antara shahabat-shahabat Rasul saw. yang datang ke Bashrah, lebih utama dari ‘Imran bin Hushain … !”

Dalam beribadat dan hubungannya dengan Allah, ‘Imran tak sudi diganggu oleh sesuatu pun. la menghabiskan waktu dan seolah-olah tenggelam dalam ibadat, hingga seakan-akan ia bukan penduduk bumi yang didiaminya ini lagi … ! Sungguh, seolah-olah ia adalah Malaikat, yang hidup di lingkungan Malai kat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman dengannya … .

Dan tatkala terjadi pertentangan tajam di antara Kaum Muslimin, yaitu antara golongan Ali dan Mu’awiyah, tidak saja ‘Imran bersikap tidak memihak, bahkan juga ia meneriakkan kepada ummat agar tidak campur tangan dalam perang ter­sebut, dan agar membela serta mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. Katanya pada mereka: “Aku lebih suka menjadi pengembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal, daripada melepas anak panah ke salah satu pihak, biar meleset atau tidak … !”

Dan kepada orang-orang Islam yang ditemuinya, diamanat kannya: “Tetaplah tinggal di mesjidmu … Dan jika ada yang memasuki mesjidmu, tinggallah di rumahmu … ! Dan jika ada lagi yang masuk hendak merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah dia … !”

Keimanan Imran bin Hushain membuktikan hasil gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu mengganggunya selama 30 tahun, tak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadat kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring .  .  .

Dan ketika para shahabatnya dan orang-orang yang men jenguknya datang dan menghibur hatinya terhadap penyakitnya itu, ia tersenyum sambil ujarnya: “Sesungguhnya barang yang paling kusukai, ialah apa yang paling disukai Allah … !” Dan sewaktu ia hendak meninggal, wasiatnya kepada kaum kerabat nya dan para shahabatnya, ialah: “Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan … !”

Memang, sepatutnyalah mereka menyembelih hewan dan mengadakan jamuan! Karena kematian seorang Mu’min seperti ‘Imran bin Hushain bukanlah merupakan kematian yang sesungguhnya! Itu tidak lain dari pesta besar dan mulia, di mana suatu ruh yang tinggi yang ridla dan diridlai-Nya diarak ke dalam surga, yang besarnya seluas langit dan bumi yang disedia kan bagi orang-orang yang taqwa ….

Abu Sufyan Bin Harits

HABIA GELAP TERBITLAH TERANG

Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu’awiyah. Kiaahnya merupakan kiaah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka …. Yaitu kiaah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri di haribaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut … !

Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.

Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi’ah dan Ab dullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari parnannya,. Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selama beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa’diyah.

Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada per untungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja’far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya, ialah:

“Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul’alamin … !”
Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ….

Di Abwa’ kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. la bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan mengguna kan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qiahas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum iatuh ke tangan orang lain.

Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja’far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka dari padanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.

Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru: “Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Mu.hammadar Rasulullah . . . . “. Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya kata nya: “Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah”. Rasulullah pun menjawab:

“Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!” Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya:  ”Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini”.

Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: “Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula. . .

Demikianlah hanya sekejap saat . . . ! Rasulullah bersabda: “Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah … !” Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada ter batas

Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan ‘Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.

Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.

Tanpa menunggu lama Abu Lahab memanggilnya, katanya: —”Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana … !”

Ujar Abu Sufyan bin Harits:  ”Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka . . . ! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy . . . ! Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengen darai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun . . . !”

yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin

Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?

Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia dating nanti . . . Nah, saat petun juk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul’alamin… !

Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lalu dan mengejar ketinggal annya selama ini . . – .

Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pem pembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulullah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan1 mereka porak poranda.

Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya berseru: “Hai manusia . . . ! Saya ini Nabi dan tidak dusta . . Saya adalah putra Abdul Mutthalib … !”

Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada bebe rapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja’far.

Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, . yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.

Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah mem beri mereka kemenangan mutlak.

Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling . . . . Kiranya didapatinya seorang Mu’min sedang memegang erat-erat tali kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.

Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: “Siapa ini . . . ? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits. . . !” Dan demi didengarnya Rasulullah mengatakan “saudaraku”, hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya ….

Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menvatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya:

‘Warga Ka’ab dan ‘Amir sama mengetahui
Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai
Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati
Menerjuni api peperangan tak pernah nyali
Semata mengharapkan keridlaan Ilahi
Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali”.

Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kepadaan agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi ke padaan tetap menjadi tumpuan hidupnya … !

Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi’ sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya: “Aku sedang menyiapkan kuburku …. “.

Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring di rumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya:  ”Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa … ! “

Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkat kannya sedikit ke atas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini ….

Abdullah Bin ‘ Amr Bin ‘ Ash

TEKUN BERIBADAT DAN BERTAUBAT

Seorang abid yang shaleh, rajin beribadat dan gemar sertaubat yang kita paparkan riwayatnya sekarang ini ialah Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Seandainya bapaknya menjadi guru dalam kercerdasan, kelihaian dan banyak tipu muslihat, sebaliknya Abdullah, menjadi teladan yang inernpunval kedudukan tinggi di antara ahli-ahli ibadat yang bersifat, zuhud dan terbuka. Seluruh waktu dan sepanjang kehidupannya dipergunakannya untuk beribadat. Ia berhasil mengecap manianya iman, hingga waktu siang dan malam itu tidak cukup puas untuk menampung kebaktian serta aural lbadatnya.

Ia lebih dulu masuk Islam daripada bapaknya. Dan semenjak ia bai’at dengan menaruh telapak tangan kanannya di telapak kanan Rasulullah saw., sementara hatinya yang tak ubahnya dengan cahaya shubuh yang cemerlang diterangi oleh nur Ilahi dan cahaya ketaatannya, pertama-tama Abdullah memusatkan perhatiannya terhadap al-Qura’n diturunkan secara ber angsur-angsur.

Setiap turun ayat maka dihafalkan dan diusahakannya untuk memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna ia pun telah hafal keseluruhannya.

Dan ia menghafalkan itu bukanlah hanya sekedar mengingat hingga seolah-olah ingatannya itu menjadi musium bagi sebuah buku tebal …. tetapi dihafalkan dengan tujuan dapat diperguna kan untuk memupuk jiwanya, dan kemudian agar ia dapat menjadi hamba Allah yang taat, menghalalkan apa yang dihalal kanNya dan mengharamkan apa yang diharamkanNya Serta memperkenankan seruannya. Kemudian tiada bosan-bosannya ia membaca, melagukan dan merenungkan isinya, menjelajahi taman-tamannya yang indah mekar, gembira ria jika kebetulan ayat-ayatnya yang mulia itu menceritakan kesenangan, sebalik nya menangia mengucurkan air mata jika membangkitkan hal-hal yang menakutkan … !

Abdullah telah ditaqdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadat, tidak satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu menghalangi terbentuknya bakat yang suci ini dan tertanamnya nur Ilahi yang telah ditaqdirkan bagi dirinya itu.

Apabila tentara Islam maju ke medan laga untuk menghadapi orang-orang musyrik yang melancarkan peperangan dan per musuhan, maka kita akan menjumpai di barisan terdepan, men­cintakan syahid dengan hati yang rindu jiwa yang asyik.

Dan jika peperangan itu telah usai, di mana kita akan me nemuinya? Di mana lagi, kalau tidak di mesjid umum atau di mushalla rumahnya, shaum di waktu siang dan berdiri shalat di waktu malam. Lidahnya tak kenal akan percakapan tentang soal dunia walaupun yang tidak terlarang, sebaliknya tidak kering-keringnya berdzikir kepada Allah, tasbih memuji-Nya, istighfar terhadap dosanya atau membaca kitab Suci-Nya.

Untuk mengetahui betapa jauhnya Abdullah terlibat dalam beribadat, cukuplah kita perhatikan Rasulullah yang sengaja datang menyeru manusia untuk beribadat kepada Allah, terpaksa campur tangan agar ia tidak sampai keterlaluan dan berlebih -lebihan … !

Demikianlah, seandainya salah satu segi dari pelajaran yang dapat ditarik dari kehidupan Abdullah bin Amr, menyingkapkan kemampuan luar biasa yang tersimpan dalam jiwa manusia untuk mencapai tingkat tertinggi dalam beribadat dan meninggal kan kesenangan duniawi, seginya yang lain ialah perlindungan Agama agar orang bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan dalam mencapai segala ketinggian dan kesempurnaan itu, hingga jiwa seseorang itu tetap mempunyai gairah hidup dan semangat bermasyarakat .. . , dan agar jasmaninya tetap dalam keadaan kondisi siap melaksanakan segala tugas … !

Rasulullah saw. telah mengetahui rahasia jalan dan corak kehidupan Abdullah bin Amr bin Ash hanya satu dan tidak berubah! Jika tidak pergi berjuang, maka hari-harinya itu dari mulai fajar sampai fajar berikutnya terpusat pada ibadat yang sambung-menyambung, berupa shaum, shalat dan membaca al-Quran .

Dipanggilnyalah Abdullah dan dia’uruhnya agar tidak ke terlaluan dalam beribadat itu. Tanya Rasulullah saw.:

“Kabarnya kamu selalu shaum di siang hari tak pernah berbuka, dan shalat di malam hari tak pernah tidur … ?” cukuplah shaum tiga hari dalam setiap bulan … ” Ujar Abdullah: “Aku sanggup lebih banyak dari itu . . . ! ” Sabda Nabi saw.: “Kalau begitu cukup dua hari dalam seminggu!”Jawab Abdullah: “Aku sanggup lebih banyak lagi.”Sabda Rasulullah saw.: “Jika demikian, baiklah kamu lakukan shaum yang lebih utama, yaitu shaum Nabi Daud, shaum sehari lalu berbuka sehari! (al-Hadits)

Setelah itu ditanyakan pula oleh Rasulullah saw.: — “Aku tahu bahwa kamu membaca al-Quran sampai tamat dalam satu malam . . . ! Aku khawatir kalau-kalau usiamu lanjut dan jadi bosan membacanya . . . ! Bacalah setiap sebulan sekali khatam! Atau kalau tidak, sekali dalam sepuluh hari, atau sekali dalam tiga hari … !”

Lalu sabdanya pula:

“Aku shaum dan berbuka bangun shalat malam dan tidur, juga kawin dengan perempuan. Maka siapa yang tidak suka akan Sunnahku, tidaklah termasuk golongan ummatku… !” (al-Hadits)

Dan benarlah Abdullah bin ‘Amr dikaruniai usia lanjut. Maka tatkala ia sudah tua dan tulangnya jadi lemah, ia selalu teringat nasihat Rasulullah dulu itu, lalu katanya: “Wahai malang nasib ku, kenapa tidak laksanakan keringanan dari Rasulullah … !”

Seorang Mu’min seperti Abdullah ini, akan sulit dijumpai dalam suatu pertempuran  apapun corak pertempuran itu —yang berkecamuk di antara dua golongan Muslimin. Kalau begitu, apakah kiranya yang membawa kakinya dari Madinah ke Shiffin, dan menggabungkan diri pada barisan Mu’awiyah dalam pertempuran menghadapi Ali … ?

Selamanya sikap yang diambil oleh Abdullah ini patut untuk direnungkan, sebagaimana pula setelah memahaminya, layak untuk beroleh penghargaan dan penghormatan!

Telah kita lihat betapa Abdullah bin ‘Amr memusatkan perhatiannya terhadap ibadat, hingga dapat membahayakan nyawanya. Hal ini amat mencemaskan hati bapaknya, hingga sering dilaporkannya kepada Rasulullah.

Pada kali terakhir Rasulullah menasihatinya agar tidak berlebih-lebihan dalam beribadat itu sambil membatasi waktu- waktunya, ‘Amr kebetulan hadir. Rasulullah mengambil tangan Abdullah dan meletakkannya di tangan bapaknya, ‘Amr, lalu katanya: “Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah olehmu bapakmu … !”

Dan walaupun selama ini, diaebabkan akhlaq dan keagamaan nya, Abdullah selalu taat kepada kedua orang tuanya, tetapi perintah Rasulullah secara demikian dan suasana khusus seperti itu, meninggalkan kesan yang dalam pada dirinya. Dan selama usianya yang panjang, sesaat pun Abdullah tidak lupa akan kalimat pendek ini: “Lakukanlah apa yang kuperintahkan, dan taatilah olehmu bapakmu

Kemudian, hari berganti hari, tahun berganti tahun . . . Mu’a wiyah di Syria menolak bai’at terhadap Ali. Sebaliknya Ali menolak tunduk terhadap pembangkangan yang tak dapat dibenarkan. Maka terjadilah peperangan di antara dua golongan Kaum Muslimin. Perang Jamal telah berlalu dan sekarang datang saat perang Shiffin ….

Amr bin ‘Ash telah menentukan sikapnya berpihak kepada Mu’awiyah. Dan ia tahu benar bagaimana penghormatan Kaum Muslimin terhadap puteranya Abdullah, begitupun kepercayaan mereka terhadap Agamanya. Maka rencananya hendak membawa Serta puteranya itu yang tak dapat tidak akan menguntungkan sekali pihak Mu’awiyah. Di samping itu menurut ‘Amr kehadiran Abdullah di dekatnya akan membawa nasib mujur baginya dalam peperangan. la belum lupa kenyataan-kenyataan itu di saat penyerbuan ke Syria dan waktu pertempuran Yarmuk

Sebab itu ketika hendak berangkat ke Shiffin dipanggilnya lah puteranya itu lalu katanya: “Hai Abdullah! Bersiap-siaplah untuk berangkat! Kamu akan berperang di pihak kami . . . !” Ujar Abdullah: “Bagaimana . . . ? Padahal Rasulullah saw. telah mengamanatkan kepadaku agar tidak menaruh senjata di atas leher orang Islam untuk selama-lamanya … !’

Dengan kecerdikannya ‘Amr mencoba meyakinkan Abdullah, bahwa maksud kepergian mereka ini hanyalah untuk membekuk pembunuh-pembunuh Utsman dan menuntutkan bela darah sucinya. Kemudian secara tila-tiba ia memasang perangkap mautnya, katanya: “Masih ingatkah kamu wahai Abdullah akan amanat terakhir yang diaampaikan Rasulullah kepadamu, ketika ia mengambil tanganmu lalu meletakkannya ke atas tanganku seraya katanya: “Taatilah bapakmu . . . !” Dan sekarang saya menghendaki sekali agar kamu turut bersama kami dan ikut berperang!”

Demikianlah Abdullah berangkat demi taatnya kepada bapak nya. Maksudnya tiada akan memanggul senjata dan tidak akan berperang dengan seorang Muslim pun. Tetapi betapa caranya? Yah, yang panting baginya kini turut bersama bapaknya! Adapun di waktu perang nanti, maka terserahlah kepada Allah bagaimana taqdir-Nya!

Perang pun berkeeamuk dengan hebat dan dahsyat …. Ahli- ahli sejarah berbeda pendapat, apakah Abdullah ikut Serta di permulaan perang itu ataukah tidak. Kita katakan “di permulaan”, karena tidak lama setelah itu, terjadilah suatu periatiwa yang menyebabkan Abdullah bin ‘Amr mengambil sikap secara terang-terangan menentang peperangan dan menentang Mu’awiyah.

Periatiwa itu dikarenakan ‘Ammar bin Yasir berperang di pihak Imam Ali. ‘Ammar ini seorang yang amat dihormati oleh para shahabat umumnya. Lebih-lebih lagi Rasulullah sudah semenjak dulu meramalkan kematiannya dan juga siapa-siapa pembunuhnya.

Ceritanya ialah bahwa ketika itu Rasulullah bersama shaha bat-shahabatnya sedang membangun mesjid di Madinah, yakni tidak lama setelah kepindahan mereka ke sana. Batu-batu yang digunakan sebagai bahannya ialah batu-batu besar dan berat, hingga setiap orang hanya dapat mengangkat sebuah saja. Tetapi ‘Ammar, mungkin karena gairah dan semangatnya, dapat membawa dua-dua buah. Hal itu tampak oleh Rasulullah, maka dipandanginya anak muda itu dengan kedua matanya yang ter genang air, lalu katanya: — “Kasihan anak Sumaiyah! la dibunuh oleh pihak yang durhaka . . .

Semua shahabat yang ikut bekerja pada hari itu, sama men dengar nubuwat Rasulullah ini dan selalu ingat kepadanya. Dan Abdullah bin ‘Amr juga termasuk di antara yang mendengarnya. Di saat awal peperangan antara pihak Ali dan Mu’a­wiyah itu ‘Ammar naik ke tempat-tempat yang ketinggian dan berseru dengan sekuat suaranya membangkitkan semangat:

“Hari ini kita akan menjumpai para kekasih . . . , Nabi Muhammad beserta shahabat-shahabatnya!”

Sekelompok anak buah Mu’awiyah berembuk untuk meng habisinya. Mereka sama-sama mengarahkan anak panah kepada nya lalu melepaskannya secara serempak . tepat mengenai sasaran, dan langsung mengantarkan qurban ke alam syuhada dan para pahlawan . . . .

Berita tewasnya ‘Ammar ini menjalar bagai angin kencang. Dan mendengar itu Abdullah bangkit serentak, hatinya meledak dan berontak, serunya: “Apa, ‘Ammar tewas terbunuh . . . ? Dan kalian si pembunuh-pembunuhnya . . . ? Kalau begitu, kalianlah pihak yang aniaya Kalian berperang di jalan yang sesat dan salah . . . !”

Abdullah berkeliling pada barisan Mu’awiyah sebagai juru nasihat, melemahkan semangat mereka dan menyatakan secara blak-blakan bahwa mereka adalah pihak yang aniaya, karena merekalah yang telah membunuh ‘Ammar! Duapuluh tujuh tahun yang lalu, di hadapan sekelompok shahabat-shahabatnya, Rasulullah saw. telah menyampaikan nubuwatnya bahwa ia akan dibunuh oleh pihak yang aniaya … !

Ucapan Abdullah itu disampaikan orang kepada Mu’awiyah, yang segera memanggil ‘Amr dan puteranya itu. Katanya kepada ‘Amr:  ”Kenapa tidak anda membungkam anak gila itu. . Jawab Abdullah: “Saya tidak gila, hanya saya dengar Rasulullah mengatakan kepada ‘Ammar, “Kamu akan dibunuh oleh pihak yang aniaya!” “Kalau begitu, kenapa kamu ikut bersama kami?” Tanya Mu’awiyah. Ujar Abdullah: “Yah, karena Rasulullah memerintahku agar taat kepada bapakku. Dan aku telah men taati perintahnya supaya ikut pergi, tetapi aku tidak ikut ber perang dengan kamu … !”

Tiba-tiba ketika mereka tengah berbicara itu, masuklah pengawal yang memijita idzin bagi pembunuh ‘Ammar untuk menghadap. “Suruhlah masuk!” seru Abdullah, “dan sampaikan berita gembira kepadanya bahwa ia akan jadi umpan neraka!”

Bagaimana juga tenang dan shabarnya Mu’awiyah, tetapi ia tak dapat mengendalikan amarahnya lagi, lalu bentaknya kepada ‘Amr: “jangan kamu dengarkah katanya itu?” Tetapi dengan ketenangan dan kepasrahan orang yang taqwa, Abdullah kembali menegaskan kepada Mu’awiyah bahwa apa yang dikata kannya itu barang haq dan bahwa pihak yang membunuh ‘Ammar tidak lain dari orang-orang aniaya dan pendurhaka. Kemudian sambil mengalihkan mukanya kepada bapaknya, katanya:. “Kalau tidaklah Rasulullah menyuruh anakanda agar mentaati ayahanda, tidaklah anakanda akan menyertai perjalanan ayahanda ini

Mu’awiyah dan ‘Amr pergi keluar memeriksa pasukan. Alangkah terkejutnya mereka ketika mengetahui bahwa anak buahnya sedang mempercakapkan nubuwat Rasulullah terhadap ‘Ammar: “Kamu akan dibunuh oleh pihak yang aniaya!”

Kedua pemimpin itu merasa bahwa desas-desus itu dapat meningkat menjadi tantangan dan pembangkangan terhadap Mu’awiyah. Maka mereka pun memikirkan suatu muslihat, yang kemudian mereka peroleh lalu dilontarkan kepada khalayak ramai, kata mereka:  ”Memang benar, bahwa Rasulullah pernah mengatakan kepada ‘Ammar bahwa ia akan dibunuh oleh pihak yang aniaya. Nubuwat Rasulullah itu benar, dan buktinya se karang ‘Ammar telah dibunuh! Nah, siapakah yang membunuh nya? Pembunuhnya tidak lain dari orang-orang yang telah mengajaknya pergi ikut berperang . . . !”

Dalam suasana kacau balau dan tak menentu seperti itu, berbagai logika dan alasan akan dapat diberikan! Demikianlah keterangan dan logika Mu’awiyah dan ‘Amr laria dan mendapat pasaran …

Kedua pasukan pun mulai bertempur lagi, sementara Abdul lah bin ‘Amr kembali ke mesjid dan ibadahnya ….

Abdullah bin ‘Amr menjalani kehidupannya dan tidak mengisinya kecuali dengan mengabdikan diri dan beribadat. Tetapi ikut sertanya pergi ke shifhin semata-mata kepergiannya saja, senantiasa merupakan sumber kegelisahannya. Ingatan itu tak hendak hilang-hilang dari fikirannya, sampai-sampai ia menangis, keluhnya: “Oh, apa perlunya bagiku Shiffin … ! Oh, apa perlunya bagiku memerangi Kaum Muslimin … !”

Pada suatu hari, sewaktu ia sedang duduk-duduk dengan. beberapa orang shahabatnya di mesjid Rasul, lewatlah Husein bin Ali r.a. dan mereka pun bertukaran salam. Tatkala Husein telah berlalu, berkatalah Abdullah kepada orang-orang sekeliling­nya: “Sukakah kalian kutunjukkan penduduk bumi yang paling dicintai oleh penduduk langit … ? Dialah yang baru saja lewat di hadapan kita tadi …. Husein bin Ali .            Semenjak perang Shiffin, ia tak pernah berbicara denganku . . . Sungguh, ridla­nya terhadap diriku, lebih kusukai dari barang berharga apa pun juga … ! “

Abdullah berunding dengan Abu Sa’id al-Khudri untuk berkunjung kepada Husein. Demikianlah akhirnya kedua orang termulia itu bertemu muka di rumah Husein. Lebih dulu Abdul lah bin ‘Amr membuka percakapan, hingga sampai disebut-sebut soal Shiffin. Husein mengalihkan pembicaraan ini sambil sertanya: “Apa yang membawamu sehingga engkau ikut berperang di fihak Mu’awiyah?”

Ujar Abdullah: “Pada suatu hari aku diadukan bapakku ‘Amr bin ‘Ash menghadap Rasulullah saw., katanya: “Abdullah ini shaum setiap hari dan beribadat setiap malam. Kata Rasul ullah kepadaku: “Hai Abdullah, shalat dan tidurlah, Serta shaum dan berbukalah, dan taatilah bapakmu . . . !” Maka sewaktu perang Shiffin itu, bapakku mendesakku dengan keras agar ikut pergi bersamanya. Aku pun pergi, tetapi demi Allah tak pernah aku menghunus pedang, melemparkan tombak atau melepaskan anak panah … !” Ia pun menjelaskan apa yang ter jadi dengan Mu’awiyah tentang ‘Ammar.

Tatkala usianya meningkat yang diberkati itu ketujuh puluh dua tahun …. Ia sedang berada di mushallanya, selagi ia men dekatkan diri memohon dan munajat ke hadapan Allah Robbul Alamin, bertashbih dan bertahmid, tiba-tiba ada suara memanggil
untuk melakukan perjalanan jauh, yaitu perjalanan abadi yang takkan kembali ….

Disambutnya panggilan itu dengan hati yang telah lama rindu, dan terbang melayanglah ruhnya menyusul teman-temannya yang telah mendahuluinya mendapat kebahagiaan, sementara suara hiburan menghimbaunya dari Rafiqul A’la:

“Wahai jiwa yang tenang tenteram!
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai … !
Maka masuklah dalam golongan ummat-Ku dan masuklah ke dalam sorga-Ku …!”

Abdurrahman Bin Abi Bakar

PAHLAWAN SAMPAI SAAT TERAKHIR

Ia merupakan lukisan nyata tentang kepribadian Arab dengan segala kedalaman dan kejauhannya . . . . Sementara bapaknya adalah orang yang  pertama beriman, dan “Shiddiq” yang memiliki corak keimanan yang tiada taranya terhadap Allah dan Rasul-Nya, serta orang kedua ketika mereka berada dalam gua.

Tetapi Abdurrahman termasuk salah seorang yang keras laksana batu karang menyatu menjadi satu, senyawa dengan Agama nenek moyangnya dan berhala-berhala Quraisy … !

Di perang Badar ia tampil sebagai barisan penyerang di pihak tentara musyrik.

Dan di perang Uhud ia mengepalai pasukan panah yang dipersiapkan Quraisy untuk menghadapi Kaum Muslimin . . . . Dan sebelum kedua pasukan itu bertempur, lebih dulu seperti biasa dimulai dengan perang tanding. Abdurrahman maju ke depan dan meminta lawan dari pihak Muslimin. Maka bangkit lah bapaknya yakni Abu Bakar Shiddiq r.a. maju ke muka melayani tantangan anaknya itu …. Tetapi Rasulullah menahan shahabatnya itu dan menghalanginya melakukan perang tanding dengan puteranya sendiri ….

Bagi seorang Arab asli, tak ada ciri yang lebih menonjol dari kecintaannya yang teguh terhadap apa yang diyakininya . . . . . Jika ia telah meyakini kebenaran sesuatu agama atau sebuah pendapat, maka tak ubahnya ia bagai tawanan yang diperbudak oleh keyakinannya itu hingga tak dapat melepaskan diri lagi. Kecuali bila ada keyakinan baru yang lebih kuat, yang memenuhi rongga akal dan jiwanya tanpa syak wasangka sedikit pun, yang akan menggeser keyakinannya yang pertama tadi.

Demikianlah, bagaimana juga hormatnya Abdurrahman kepada bapaknya, serta kepercayaannya yang penuh kepada kematangan akal dan kebesaran jiwa serta budinya, namun keteguhan hatinya terhadap keyakinannya tetap berkuasa hingga tiada terpengaruh oleh keislaman bapaknya itu. Maka ia berdiri teguh dan tak beranjak dari tempatnya, memikul tanggung jawab aqidah dan keyakinannya itu, membela berhala-berhala Quraisy dan bertahan mati-matian di bawah bendera dan panji-panjinya, melawan Kaum Mu’minin yang telah siap mengurbankan jiwanya.

Dan orang-orang kuat semacam ini, tidak buta akan ke benaran, walaupun untuk itu diperlukan waktu yang lama. Kekerasan prinsip, cahaya kenyataan dan ketulusan mereka, akhir kesudahannya akan membimbing mereka kepada barang yang haq dan mempertemukan mereka dengan petunjuk dan kebaikan.

Dan pada suatu hari, berdentanglah saat yang telah ditetap kan oleh taqdir itu, yakni saat yang menandai kelahiran baru dari Abdurrahman bin Abu Bakar Shiddiq . . . . Pelita-pelita petunjuk telah menyuluhi dirinya, hingga mengikis habis baying-­bayang kegelapan dan kepalsuan warisan jahiliyah. Dilihatnya Allah Maha Tunggal lagi Esa di segala sesuatu yang terdapat di sekelilingnya, dan petunjuk Allah pun mengurat-mengakar pada diri dan jiwanya, hingga ia pun menjadi salah seorang Muslim . . . !

Secepatnya ia bangkit melakukan perjalanan jauh menemui Rasulullah untuk kembali ke pangkuan Agama yang haq. Maka bercahaya-cahayalah wajah Abu Bakar karena gembira ketika melihat puteranya itu bai’at kepada Rasulullah saw.

Di waktu kafirnya la adalah seorang jantan! Maka sekarang ia memeluk Islam secara jantan pula! Tiada sesuatu harapan yang menariknya, tiada pula sesuatu ketakutan yang mendorongnya

Hal itu tiada lain hanyalah suatu keyakinan yang benar dan tepat, yang dikaruniakan oleh hidayah Allah dan taufik-Nya! Dan mulai saat itu Abdurrahman pun berusaha sekuat tenaga untuk menyusul ketinggalan-ketinggalannya selama ini, baik di jalan Allah, maupun di jalan Rasul dan orang-orang Mu’min.

Di masa Rasulullah saw. begitupun di masa khalifah-khalifah sepeninggalnya, Abdurrahman tak ketinggalan mengambil bagian dalam peperangan, dan tak pernah berpangku tangan dalam jihad yang aneka ragam ….

Dalam peperangan Yamamah yang terkenal itu, jasanya amat besar. Keteguhan dan keberaniannya memiliki peranan besar dalam merebut kemenangan dari tentara Musailamah dan orang-orang murtad . . . . Bahkan ialah yang menghabisi riwayat Mahkam bin Thufeil, yang menjadi otak perencana bagi Musai lamah, dengan segala daya upaya dan kekuatannya ia berhasil mengepung benteng terpenting yang digunakan oleh tentara murtad sebagai tempat yang strategis untuk pertahanan mereka.

Tatkala Mahkam rubuh disebabkan suatu pukulan yang menentukan dari Abdurrahman, sedang orang-orang sekelilingnya lari tunggang langgang, terbukalah lowongan besar dan luas di benteng itu, hingga prajurit-prajurit Islam masuk berlompatan ke dalam benteng itu . . . .

Di bawah naungan Islam sifat-sifat utama Abdurrahman bertambah tajam dan lebih menonjol. Kecintaan kepada ke yakinannya dan kemauan yang teguh untuk mengikuti apa yang dianggapnya haq dan benar, kebenciannya terhadap bermanis mulut dan mengambil muka, semua sifat ini tetap merupakan sari hidup dan permata kepribadiannya. Tiada sedikit pun ia terpengaruh oleh sesuatu pancingan atau di bawah sesuatu tekanan, bahkan juga pada saat yang amat gawat, yakni ketika Mu’awiyah memutuskan hendak memberikan bai’at sebagai khalifah bagi Yazid dengan ketajaman senjata!

Mu’awiyah mengirim Surat bai’at itu kepada Marwan guber nurnya di Madinah dan menyuruh dibacakannya kepada Kaum Muslimin di mesjid. Marwan melaksanakan perintah itu, tetapi belum lagi selesai ia membacakannya, Abdurrahman bin Abu Bakar pun bangkit dengan maksud hendak merubah suasana hening yang mencekam itu menjadi banjir protes dan perlawanan keras katanya:  ”Demi Allah, rupanya bukan kebebasan memilih yang anda berikan kepada ummat Nabi Muhammad saw., tetapi anda hendak menjadikannya kerajaan seperti di Romawi hingga bila seorang kaisar meninggal, tampillah kaisar lain sebagai penggantinya … !”

Saat itu Abdurrahman melihat bahaya besar yang sedang mengancam Islam, yakni seandainya Mu’awiyah melanjutkan rencananya itu, akan merubah hukum demokrasi dalam Islam di mana rakyat dapat memilih kepala negaranya secara bebas, menjadi sistem monarki di mana rakyat akan diperintah oleh raja-raja atau kaisar-kaisar yang akan mewarisi takhta secara turun temurun … !

Belum lagi selesai Abdurrahman melontarkan kecaman keras ini ke muka Marwan, ia telah disokong oleh segolongan Muslimin yang dipimpin oleh Husein bin Ali, Abdullah bin Zubeir dan Abdullah bin Umar.

Di belakang muncul beberapa keadaan mendesak yang memaksa Husein, Ibnu Zubeir dan Ibnu Umar berdiam diri terhadap rencana bai’at yang hendak dilaksanakan Mu’awiyah dengan kekuatan senjata ini. Tetapi Abdurrahman tidak putus- putusnya menyatakan batalnya baiat ini secara terus terang!

Mu’awiyah mengirim utusan untuk menyerahkan uang kepada Abdurrahman sebanyak seratus ribu dirham dengan maksud hendak membujuknya. Tetapi Abdurrahman melempar kan harta itu jauh-jauh, lalu katanya kepada utusan Mu’awiyah: “Kembalilah kepadanya dan katakan bahwa Abdurrahman tak hendak menjual Agamanya dengan dunia … !”

Tatkala diketahuinya setelah itu bahwa Mu’awiyah sedang bersiap-siap hendak melakukan kunjungan ke Madinah, Abdur rahman segera meninggalkan kota itu menuju Mekah. Dan rupanya iradat Allah akan menghindarkan dirinya dari bencana dan akibat pendiriannya ini ….

Karena baru saja ia sampai di luar kota Mekah dan tinggal sebentar di sana, ruhnya pun berangkat menemui Tuhannya. Orang-orang mengusung jenazahnya di bahu-bahu mereka dan membawanya ke suatu dataran tinggi kota Mekah lalu memakam kannya di sana, yakni di bawah tanah yang telah menyaksikan masa jahiliyahnya …. dan juga telah menyaksikan masa Islam nya . . . ! Yakni keislaman seorang laki-laki yang benar, berjiwa bebas dan kesatria … !

Usamah Bin Zaid

KESAYANGAN, PUTERA DARI KESAYANGAN

Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab r.a. sedang duduk membagi-bagikan uang perbendaharaan negara kepada Kaum Muslimin. Ketika datang giliran Abdullah bin Umar, khalifah pun memberikan bagiannya. Dan tatkala tiba giliran Usamah bin Zaid, Umar memberinya bagian dua kali lipat dari bagian puteranya Abdullah ….

Karena biasanya Umar mengeluarkan pemberian kepada orang-orang itu sesuai dengan kelebihan dan jasa mereka terhadap Islam, maka Abdullah khawatir kalau-kalau kedudukannya dalam Islam itu berada pada urutan terakhir padahal ia amat mengharapkan agar dengan ketaatan dan perjuangannya, dengan sifat zuhud dan keshalehannya, ia akan tercatat di sisi Allah sebagai salah seorang dari angkatan pelopor dan barisan depan

Oleh sebab itulah ia menanyakan kepada bapaknya, kata nya: “‘Kenapa ayahanda lebih mengutamakan Usamah dari anakanda, padahal anakanda mengikuti Rasulullah, dalam peperangan yang tidak diikutinya?” Ujar Umar: “Usamah lebih di cintai Rasulullah daripadamu . . . , sebagaimana ayahnya lebih disayanginya daripada ayahmu … !”

Nah, siapakah dia orang ini, yang derajat kesayangan Rasul ullah kepadanya dan kepada bapaknya, lebih tinggi dari kepada Abdullah bin Umar, bahkan dari kepada Umar sendiri … ?

Itulah dia Usamah bin Zaid … ! Dan para shahabat meng gelarinya “Kesayangan, putera dari kesayangan “. Bapaknya yang bernama Zaid bin Haritsah adalah pelayan Rasulullah yang lebih mengutamakannya dari ibu bapak dan kaum keluarganya, dan yang oleh Rasulullah dihadapkannya kepada serombongan shahabatnya, seraya katanya: “Saya persaksikan kepada kamu sekalian bahwa Zaid ini adalah puteraku, yang akan menjadi ahli warisku dan aku akan menjadi ahli warisnya . . . !” Maka terkenallah namanya di kalangan Kaum Muslimin sebagai Zaid bin Muhammad saw., sampai saat dihapusnya kebiasaan meng ambil anak angkat itu oleh al-Quranul Karim.

Maka Usamah ini adalah puteranya. Sedang ibunya yaitu Ummu Aiman, bekas sahaya Rasulullah dan pengasuhnya. Mengenai rupa dan bentuk lahirnya, tidak disiapkan untuk sesuatu keahlian, walau pekerjaan apa pun. Sebagaimana dilukis kan oleh para sejarawan dan ahli-ahli riwayat, kulitnya hitam dan hidungnya pesek.

Memang, dengan dua kata ini Saja tak perlu lebih, sejarah telah menyimpulkan pembicaraan tentang bentuk Usamah …. Tetapi, sedari kapan Islam mementingkan rupa dan bentuk lahir dari manusia . . . ? Kapankah, padahal Rasulnya sendiri telah rnengatakan’

‘Ingatlah! Berapa banyahnya orang yang berambut kusut masai, dengan tubuh penuh debu dan pakaian yang telah usang dan 1apuk hingga tak diacuhkan orang, tetapi bila ia memohon kepada Allah pasti akan dikabulkan permohonannya itu … !” (al-Hadits)

Jadi kalau begitu, tidak perlu kita bicarakan mengenai bentuk lahir dari Usamah! Kita tinggalkan kulitnya yang hitam dan hidungnya yang pesek, karena dalam neraca Agama Islam, semua itu tak ada nilai dan pengaruhnya.

Dan marilah kita lihat sampai di mana partisipasi dalam perjuangannya dan betapa semangat berqurbannya! Bagaimana kesederhanaannya . . . ., keteguhan pendirian, ketaatan dan keshalehan, kebesaran jiwa serta kesempurnaan peri hidupnya! Dalam semua itu ia telah mencapai batas yang memung kinkannya untuk menerima limpahan kecintaan dan penghargaan Rasulullah saw. sebagai sabdanya:

“Sungguh, Usamah bin Zaid adalah manusia yang paling kusayangi, dan aku berharap kiranya ia ahan termasuk orang-orang shaleh di antara kalian dan terimalah nasihatnya yang baik(al-Hadits)

Usamah r.a. memiliki semua sifat utama yang menyebabkan dirinya dekat ke hati Rasulullah dan besar dalam pandangan mata Rasul. la adalah putera dari sepasang suami isteri Islam yang mulia dan termasuk rombongan pertama yang masuk Islam, dan paling dekat serta paling cinta kepada Rasulullah. la juga termasuk di antara putera-putera Islam yang murni yang dilahirkan dalam keislaman dan disusukan dari sumbernya yang bersih tanpa dikotori oleh debu jahiliyah yang gelap gulita ….

Dan walaupun usianya masih muda belia, tetapi ia r.a. telah menjadi seorang Mu’min yang tangguh dan Muslim yang kuat, yang siap sedia memikul tanggung jawab keimanan dan Agama nya dengan kecintaan yang mendalam dan kemauan membaja. Kemudian ia adalah seorang yang amat cerdas dan kelewat rendah hati, serta mati-matian tak kenal batas berjuang di jalan Allah dan Rasul-Nya.

Di samping itu, dalam Agama baru ini ia merupakan kelinci percobaan terhadap perbedaan warna kulit yang sengaja hendak dihapus dan dilenyapkan oleh Agama Islam.

Maka si hitam pesek ini telah merebut kedudukan tinggi di hati Nabi dan barisan Kaum Muslimin karena Agama yang telah dipilih Allah bagi hamba-hamba-Nya telah menetapkan

ukuran yang sah bagi ketinggian manusia itu dengan firman Allah
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, ialah yang paling taq wa! ”
(Q S. 49 al-Hujurat: 13)

Demikiaialah ketika Rasulullah saw. memasuki kota Mekah di hari pembebasan yang terkenal itu, kita lihat sebagai pen dampingnya ialah Usamah bin Zaid. Kemudian kita lihat pula beliau memasuki Ka’bah di saat-saat yang paling mengharukan dan penuh kenangan itu, beliau diapit di sebelah kanan oleh Bilal dan di sebelah kiri oleh Usamah, dua lelaki yang tubuh mereka dibungkus oleh kulit yang hitam pekat, tetapi kalimat -kalimat Allah yang memenuhi rongga dada mereka yang luas dan suci telah menyepuh kulit mereka itu dengan warna yang gemilang, melambangkan kemuliaan dan ketinggian ….

Dalam usianya yang masih remaja, belum lagi lebih 20 tahun, ia telah diangkat oleh Rasulullah sebagai panglima dari suatu tentara yang di antara prajurit-prajuritnya terdapat Abu Bakar dan Umar . . . ! Di kalangan sebagian Kaum Muslimin tersinar desas-desus keberatan mereka terhadap putusan ini! Mereka menganggap tidak pada tempatnya mengangkat seorang pemuda yang masih hijau seperti Usamah bin Zaid untuk memimpin suatu pasukan tentara yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh Muhajirin dan pemuka-pemuka Anshar ….

Bisik-bisik ini sampai ke telinga Rasulullah saw. beliau naik ke atas mimbar, lalu menyampaikan puji dan syukur kepada Allah, kemudian sabdanya:

“Sebagian orang mengecam pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai panglima . . . ! Sebelum ini mereka juga telah mengecam pengangkatan bapaknya . . . ! Walau bapaknya itu layak untuk menjadi panglima! Dan Usamah pun layak untuk jabatan itu!

Ia adalah yang paling saya kasihi setelah bapaknya . . . ! Dan saya berharap kiranya ia termasuk salah seorang utama di antara kalian … !
Maka bantulah ia dengan memberikan nasihat yang baik …

Sebelum tentara itu bergerak menuju tujuannya, Rasulullah saw. pun wafat. Tetapi ia telah meninggalkan pesan yang ber hikmat kepada para shahabatnya; “Laksanakanlah pengiriman Usamah … ! Teruskan pemberangkatannya … !”

Wasiat ini dijunjung tinggi oleh khalifah Abu Bakar. Dan walaupun suasana sepeninggal Rasulullah itu telah berubah, tetapi Abu Bakar Shiddiq bersikeras hendak melaksanakan wasiat dan perintahnya. Maka bergeraklah tentara Usamah ke Lempat yang telah ditetapkan, yakni setelah khalifah meminta izin kepadanya agar Umar dibolehkan tinggal di Madinah untuk rnendampinginya.

Maka tatkala kaisar Romawi Heraklius mendengar berita tentang wafatnya Rasulullah, pada waktu yang bersamaan di terimanya pula berita kedatangan tentara Islam menyerang perbatasan Syria di bawah pimpinan Usamah bin Zaid. Ia pun merasa heran terhadap kekuatan Kaum Muslimin karena wafat nya Rasulullah sedikit pun tidak mempengaruhi rencana dan kemampuan mereka!

Demikianlah pihak Romawi merasa kecut, dan mereka tidak berani lagi mengambil langkah selanjutnya untuk menyerang tanah air Islam di jazirah Arab!

Dan mengenai pasukan Usamah, ia kembali tanpa meninggal kan qurban, hingga orang-orang Islam saling berkata: “Tidak pernah kita lihat, pasukan yang lebih aman dari pasukan Usamah’.. . ! “

Pada suatu hari, Usamah menerima pelajaran dari Rasulullah, suatu pelajaran yang amat dalam, yakni pelajaran yang akan menjadi pedoman bagi Usamah sepanjang hayatnya, semenjak ia ditinggalkan oleh Rasulullah sampai ia menyusul pula ke sisi Tuhannya di akhir masa pemerintahan Mu’awiyah.

Dua tahun sebelum beliau wafat, Rasulullah saw. mengirim Usamah sebagai komandan dari suatu pasukan untuk meng hadapi sebagian orang-orang musyrik yang menentang Islam dan menyerang Kaum Muslimin. Peristiwa itu merupakan pengangkatan pertama sebagai Amir atau panglima yang dialami oleh Usamah.

Dalam tugas ini Usamah berhasil mencapai kemenangan, dan beritanya telah lebih dulu diterima Rasulullah, menyebab kan beliau gembira dan berbahagia. Dan marilah kita dengar cerita Usamah memaparkan peristiwa itu selanjutnya: “Setiba saya dari medan laga, segera saya menghadap Nabi saw. dan sementara itu berita kemenangan telah sampai ke telinga beliau saya dapati wajahnya berseri-seri . . . , lalu disuruhnya saya mendekat, kemudian katanya: “Cobalah ceritakan kepada ku… ! “Lalu saya ceritakan kepadanya . . . . Saya katakan bahwa tatkala orang-orang. itu mengalami kekalahan, saya menemui seorang laki-laki dan kepadanya saya acungkan tombak. la mengucapkan La ilaha illallah, maka saya tusuk ia hingga tewas.

Wajah Rasulullah tiba-tiba berubah, ujarnya: “Keparat kamu, hai Usamah . . . ! Betapa tindakanmu terhadap orang yang mengucapkan La ilaha illallah?

Keparat kamu, hai Usamah . . . ! Betapa perlakuanmu ter hadap orang yang mengucapkan La ilaha illallah?” Rasulullah selalu mengulang-ulangi ucapannya itu kepada saya hingga ingin saya rasanya mengakhiri semua perbuatan yang telah saya kerjakan, lalu mulai saat itu menghadapi Islam dengan halaman baru! Maka demi Allah! Tidak . .. ! Saya takkan membunuh lagi seorang yang mengucapkan La ilaha ill1allah, setelah men­dengar kata-kata penyalahan dari Rasulullah saw. itu . . . !”

Inilah dia pelajaran utama yang memberi pengarahan kepada kehidupan Usamah, kekasih putera kekasih, semenjak ia men dengarnya dari Rasulullah sampai ia berpisah dari dunia dalam keadaan ridla dan diridlai ….

Sungguh, suatu pelajaran yang dalam! Pelajaran yang meng ungkapkan kemanusiaan Rasulullah, keadilan dan keluhuran prinsipnya, ketinggian Agama dan akhlaqnya! Laki-laki yang kematiannya disesalkan oleh Nabi ini, dan Usamah mendapat dampratan daripadanya karena membunuhnya, adalah seorang musyrik pemanggul senjata. Tatkala ia menyebut La ilaha illallah itu hulu pedang sedang tergenggam di tangan kanannya, sementara pada matanya masih berlekatan irisan-irisan daging yang direnggutkannya dari tubuh Kaum Muslimin. Kalimat itu diucapkannya ialah agar ia selamat dari pukulan yang mematikan, atau sebagai siasat agar ia memperoleh kesempatan untuk menciptakan suasana baru, hingga ia dapat melanjutkan peperangan kembali.

Meskipun demikian, karena lidahnya telah bergerak dan mulutnya telah mengucapkannya, maka karena itu, dan pada waktu itu juga darahnya menjadi suci dan keselamatannya serta nyawanya jadi terjamin. Tidak peduli bagaimana niat, isi hati dan tujuannya yang sebenarnya … ! Pelajaran ini diperhatikan oleh Usamah sampai titik terakhir ….

Nah, bila orang dalam keadaan seperti demikian, dilarang Rasulullah membunuhnya hanya karena ia membaca La illaha illallah, bagaimana terhadap orang-orang yang betul-betul beriman dan betul-betul beragama Islam … ?

Demikianlah kita lihat ketika terjadi keributan besar antara Imam Ali dan anak buahnya di satu pihak, dengan Mu’awiyah serta pengikut-pengikutnya di lain pihak, Usamah mengambil sikap tidak memihak secara mutlak. Sebenarnya ia amat men­cintai Ali, dan berpendapat bahwa Ali di pihak yang benar . . .  Tetapi betapapun ia tidak berani membunuh dengan pedangnya seorang Muslim yang beriman kepada Allah dan kepada Rasul Nya, padahal la telah dicela oleh Rasulullah karena membunuh seorang musyrik yang memanggul senjata yang di saat kalah dan lari sempat membaca La ilaha illallah … ?

Ketika itu dikirimnyalah sepucuk surat kepada Imam Ali, yang di antara suratnya itu berisi sebagai berikut:  ”Seandainya anda berada di mulut singa sekalipun, saya bersedia untuk masuk bersama anda ke dalamnya … ! Tetapi mengenai urusan ini sekali-kali tak masuk dalam pikiranku … !”

Maka selama perselisihan dan peperangan itu ia tetap berada di rumahnya dan tidak hendak meninggalkannya. Dan tatkala datang beberapa orang shahabatnya membicarakan pendiriannya, katanya kepada mereka: — “Saya tak hendak memerangi orang yang mengucapkan La ilaha illallah untuk selama-lamanya … !”

Salah seorang di antara mereka mendebatnya, katanya: “Bukankali Allah berfirman: “Dan perangilah mereka hingga tak ada lagi fitnah, dan Agama seluruhnya menjadi milik Allah?” Jawab Usamah: — “Itu terhadap orang-orang musyrik dan kita telah memerangi mereka hingga fitnah menjadi lenyap dan agama seluruhnya menjadi milik Allah … !”

Pada tahun 54 Hijrah, hati Usamah sudah amat rindu sekali hendak berjumpa dengan Allah, hingga ruhnya telah resah gelisah dalam rongga dadanya, ingin hendak kembali ke tempat asalnya ….

Maka terbukalah pintu-pintu surga, untuk menyambut ke pulangan salah seorang yang gemar beramal baik dan ber taqwa….

Sa’ad Bin Ubadah

PEMBAWA BENDERA ANSHAR

Setiap menyebut nama Sa’ad bin Mu’adz, pastilah diaebut pula bersamanya Sa’ad bin Ubadah. Kedua mereka adalah pemuka-pemuka penduduk Madinah. Sa’ad bin Mu’adz pemuka suku Aus, sedang Sa’ad bin Ubadah pemuka suku Khazraj. Keduanya lebih dini masuk Islam, menyaksikan bai’at ‘Aqabah dan hidup di samping Rasulullah sebagai prajurit yang taat dan Mu’min sejati.

Mungkin kelebihan Sa’ad bin Ubadah karena dia satu-satunya dari golongan Anshar yang menanggung siksaan Quraisy yang dislami hanya Kaum Muslimin penduduk Mekah! Adalah suatu hal yang wajar andainya Quraisy melampiaskan amarah dan kekejaman mereka kepada orang-orang yang sekampung dengan mereka yaitu warga kota Mekah. Tetapi jika siksaan itu mencapai pada laki-laki warga Madinah, padahal ia bukan laki-laki ke banyakan, tetapi seorang tokoh di antara para pemimpin dan pemukanya, maka keiatimewaan itu telah ditaqdirkan hanya bagi Sa’ad bin Ubadah seorang.

Ceritanya demikian, setelah selesainya perjanjian ‘Aqabah yang dilakukan secara rahasia, dan orang-orang Anshar telah bersiap-siap hendak kembali pulang, orang-orang Quraisy mengetahui janji setia dari orang-orang Anshar ini Serta persetujuan mereka dengan Rasulullah saw. di mana mereka akan berdiri di belakangnya dan menyokongnya menghadapi kekuatan kekuatan musyrik dan kesesatan.

Timbullah kepanikan di kalangan Quraisy ini, dan segera mengejar kafilah Anshar. Kebetulan mereka berhasil menangkap Sa’ad bin Ubadah. Kedua tangannya mereka ikatkan ke atas pundaknya dengan tali kendaraannya, lalu mereka bawa ke Mekah, disambut beramai-ramai oleh penduduk yang memukul dan melakukan siksaan padanya sesuka hati mereka …

Apa … ? Sa’ad bin Ubadah mendapat perlakuan seperti ini ? Ia yang menjadi pemimpin Madinah, yang selama ini melindungi orang yang minta perlindungan, menjamin keamanan perdagangan mereka, memuliakan utusan dari pihak mana pun yang berkunjung ke Madinah .. . ? Tentulah orang-orang yang telah mengikatnya dan orang-orang yang memukulnya itu tidak kenal padanya dan tidak mengetahui kedudukannya di kalangan kaumnya!

Tetapi, bagaimana menurut pendapat anda mereka akan me lepaskan Sa’ad seandainya mereka mengenalnya? Bukankah mereka juga menyiksa para pemimpin Mekah yang beragama Islam … ? Ketika itu orang-orang Quraisy benar-benar dalam kebingung an. Mereka melihat nilai-nilai jahiliyah mereka menghadapi kehancuran di depan tembilang-tembilang kebenaran, sehingga tiada melihat jalan keluar kecuali dengan melampiaskan dendam dan nafsu amarah mereka.

Sebagai telah kita ceritakan tadi, orang-orang musyrik mengerumuni Sa’ad bin Ubadah dan menyiksa Serta memukulinya.Sekarang marilah dengarkan Sa’ad mengisahkan riwayatnya: “Demi Allah, aku berada dalam cengkraman mereka, ketika tiba-tiba muncul serombongan Quraisy, di antara mereka terdapat seorang laki-laki yang putih bersih dan tinggi. Kataku dalam diriku: “Andainya di antara orang-orang ini ada yang
baik, maka inilah orangnya!” Setelah ia dekat, diangkat tangannya lalu ditinjunya daku sekuat-kuatnya. Maka kataku pula: “Tidak, demi Allah! Rupanya tak ada lagi yang baik dikalangan mereka . . . !” Sungguh, ketika aku sedang mereka Seret, tiba-tiba mendekatlah kepadaku salah seorang di antara mereka, katanya: “Hai keparat, apakah tak ada di antaramu dengan salah seorang Quraisy ikatan perlindungan?” “Ada”, kataku, “aku biasa melindungi anak buah saudagar Jubeir bin Muth’im, dan menjaga mereka dari orang-orang yang bermaksud menganiaya mereka di negeriku. Jugs aku menjadi pelindung dari Harits bin Harb bin Umaiyah”. Kata orang itu pula: “Sebut lah nama kedua laki-laki itu dan terangkan ikatan perlindungan di antara kamu dengan mereka!” Anjurannya itu kuturuti; sementara ia pergi mendapatkan kedua orang sekutuku tadi dan menyampaikan pada mereka bahwa seorang laki-laki dari suku Khazraj sedang disiksa di padang pasir, sedang ia menyebut nama mereka dan menyatakan bahwa antaranya dengan mereka itu ada perjanjian perlindungan. Ketika mereka menanyakan namaku dijawabnya: “Sa’ad bin Ubadah”. “Demi Allah, benar ia!” ujar mereka, lalu mereka pun datang dan membebaskanku dari tangan mereka . .  ”.

Sa’ad segera meninggalkan Mekah setelah menerima penganiayaan yang ditemuinya, hingga diketahui nya pasti sampai di mana persiapan Quraisy untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap kaum yang tersingkir, yang me nyeru kepada kebaikan, kepada haq dan keselamatan ….

Dan permusuhan Quraisy ini telah mempertebal semangat nya hingga diputuskannya secara bulat akan membela Rasulullah saw., para shahabat dan Agama Islam secara mati-matian.

Rasulullah saw. melakukan hijrahnya ke Madinah, dan sebelumnya itu para shahabatnya telah lebih dulu hijrah. Ketika itu demi melayani kepentingan orang-orang Muhajirin, Sa’ad membaktikan harta kekayaannya. Sa’ad adalah seorang dermawan, baik dari tabi’at pembawaan, maupun dari turunan. Ia adalah putra Ubadah bin Dulaim bin Haritsah yang kedermawan annya di zaman jahiliyah lebih tenar dari ketenaran manapun juga.

Dan memang, kepemurahan Sa’ad di zaman Islam merupakan salah satu bukti dari bukti-bukti keimanannya yang kuat lagi tangguh. Dan mengenai sifatnya ini ahli-ahli riwayat pernah

berkata: “Sa’ad selalu menyiapkan perbekalan bagi Rasulullah saw. dan bagi seluruh isi rumahnya . . . !”

Kata mereka pula: “Biasanya seorang laki-laki Anshar pulang ke rumahnya membawa seorang dua atau tiga orang Muhajirin, sedang Sa’ad bin Ubadah pulang dengan 80 orang – – – !” Oleh sebab itu Sa’ad selalu memohon kepada Tuhannya agar di tambahi rizqi dan karunia-Nya. Dan ia pernah berkata: “Ya Allah, tiadalah yang sedikit itu memperbaiki diriku, dan tidak pula baik bagiku . . . !” Wajarlah apabila Rasulullah saw. men­dua’akannya: “Ya Allah, berilah keluarga Sa’ad bin Ubadah karunia Serta rahmat-Mu … !”

Sa’ad tidak hanya menyiapkan kekayaannya untuk melayani kepentingan Islam yang murni, tetapi juga ia membaktikan kekuatan dan kepandaiannya. Ia adalah seorang yang amat mahir dalam memanah. Dalam peperangannya bersama Pasulullah saw. pengurbanannya amat penting dan menentukan. Berkata Ibnu Abbas r.a.: — “Di setiap peperangannya, Rasulullah saw, mem punyai dua bendera: Benders Muhajirin di tangan Ali bin Abi Thalib dan bendera Anshar di tangan Sa’ad bin Ubadah”.

Tampaknya kekerasan menjadi tabi’at pribadi orang kuat ini . . . ! Ia seorang yang  keras dalam melaksanakan haq dan keras mempertahankan apa yang dipandangnya benar dan menjadi haqnya.

Bila ia telah meyakini sesuatu hal, maka ia akan bangkit menyatakannya secara terns terang tanpa tedeng aling-aling dan akan melaksanakannya dengan tekad bulat tiada kenal kompromi.

Maka tatkala pembebasan kota Mekah, Rasulullah meng angkatnya sebagai komandan suatu peleton dari tentara Islam. Dan demi ia sampai dekat pintu gerbang Tanah Suci ia telah berseru:

“Hari ini hari berkecamuknya perang!
Hari ini dihalalkan perbuatan yang terlarang …

Seruannya itu kedengaran oleh Umar bin Khatthab, maka ia segera menghadap Rasulullah saw. lalu katanya: “Wahai Rasulullah, dengarlah apa yang dikatakan Sa’ad bin Ubadah itu! Kita khawatir kalau-kalau ia akan menggempur habis Quraisy … ! “

Nabi saw. pun memerintahkan Ali untuk menemuinya, meminta bendera dan mengambil alih pimpinan dari tangan nya….

Ketika dilihatnya kota Mekah telah tunduk dan menyerah kepada tentara Islam yang berjaya itu, teringatlah Sa’ad akan aneka ragam siksaan yang ditimpakan mereka kepada Kaum Muslimin, bahkan juga kepada dirinya sendiri dulu. Dan ter­kenanglah peperangan demi peperangan yang dilancarkan mereka terhadap orang-orang yang cinta damai, padahal tak ada dosa mereka, hanyalah karena mereka berani mengatakan: “Lailaha illallah, tiada Tuhan melainkan Allah”. Maka kekerasan hati dan ketegasannya mendorongnya untuk menindak orang-orang Quraisy dan membalas kejahatan mereka dengan tindakan yang setimpal ….

Sikapnya yang militan ini pulalah yang menjabarkan pen dirian Sa’ad bin Ubadah yang terkenal dengan peristiwa hari saqifah itu ….

Tidak lama setelah wafatnya Rasulullah saw. segolongan Anshar berkumpul di saqifah (pendopo) Bani Sa’idah menyeru kan agar khalifah Rasulullah itu diangkat dari golongan Anshar. Karena mengambil alih tanggung jawab khilafah Rasulullah pada saat itu merupakan kewajiban orang Anshar sebagai penduduk asli Madinah yang telah menyatakan bai’atnya di bukit ‘Aqabah pada saat orang-orang Mekah tidak berdaya menghadapi pe nindasan dan gempuran orang-orang kafir Quraisy. Wajar pulalah apabila orang-orang yang telah menyediakan tempat, perbekalan dan jiwa raganya, demi kelangsungan hidup Agama Allah tampil mengambil alih tanggung jawab ini.

Sikap ini dipelopori oleh Sa’ad bin Ubadah, seorang yang cukup dikenal kejujuran, keterbukaan dan keterusterangan sikapnya. 4

Tetapi Umar bin Khatthab mempunyai pendirian yang lain, ia meninjau dari segi kepemimpinan pada umumnya dan memperhatikan sikap Rasulullah pada masa hidupnya terhadap Abu Bakar.

Menurut Umar, Abu Bakar Shiddiq mendapat kepercayaan Rasul mewakili beliau menjadi imam shalat pada saat Rasul sakit, dan banyak lagi sikap dan sifat kepemimpinan Abu Bakar yang sangat menonjol di masa hayat Rasulullah dikemukakan Umar dengan tidak mengecilkan, bahkan mengagumi pengurban an, kepahlawanan dan kepemimpinan orang-orang Anshar, Umar pun mengutip ayat al-Quran:

orang kedua selagi mereka berada dalam gua … (Q-S. 9 at-Taubat:40)
Dapat dipahami seperti ayat tersebut oleh seluruh shahabat bahwa orang kedua itu ialah Abu Bakar.

Dalam situasi seperti ini adanya perbedaan pendapat dan timbulnya pro dan kontra adalah wajar. Dan dengan rahmat dan inayah Allah peristiwa ini dapat diselesaikan dan diatasi dengan terpilihnya Abu Bakar Shiddiq sebagai khalifah mereka ….

Sikap Sa’ad bin Ubadah yang terbuka dan terus terang dan sangat gigih dalam mengemukakan pendiriannya itu, sangat dihargai oleh Rasulullah.

Mari kita ungkapkan apa yang terjadi setelah selesainya perang Hunain.

Tatkala perang itu berakhir dengan kemenangan di pihak Muslimin, Rasulullah saw. pun membagi-bagikan harta rampasan kepada mereka. Ketika itu beliau memberikan perhatian khusus kepada para muallaf, yakni bangsawan-bangsawan Quraisy yang baru saja masuk Islam waktu fathu Mekah. Dengan pem berian itu Rasulullah bermaksud melembutkan hati orang-orang itu dalam mengatasi kemelut jiwa mereka, sebagaimana beliau memberikan kepada pejuang yang sangat memerlukan guna menolong mengatasi kebutuhan materi mereka.

Adapun orang-orang yang telah kokoh keislamannya, Nabi menyerahkan mengatasi persoalan hidup itu kepada keislaman mereka, dan tidak memberikan sesuatu pun dari harta rampasan perang ini. Perlu pula diketahui bahwa pemberian Rasulullah saw.  semata pemberiannya saja  sudah merupakan suatu kehormatan yang amat diharapkan oleh seluruh Kaum Muslimin. Di samping itu rampasan perang telah merupakan sumber penting dari biaya yang menunjang kehidupan Muslimin.

Demikianlah dengan perasaan heran orang-orang Anshar bertanya-tanya sesama mereka: “Kenapa Rasulullah tidak me nyerahkan upeti dan harta rampasan yang menjadi bagian mereka … ?”

Dan berkatalah penyair Anshar Hasan bin Tsabit:
“Datanglah pada Rasulullah, tanyakan padanya
Wahai orang-orang yang terpercaya di kalangan orang-orang beriman

Bila manusia dapat penilaian, kenapa Sulaim ditinggalkan? Bukankah ia tampil ke depan, memberi tempat dan per lindunganSampai Allah menyebut mereka Anshar atau para pembela Karena mereka membela Agama petunjuk, dan pejuang di medan laga Cepat kaki dan ringan tangan di jalan Allah Menyadari kesulitan, tiada merasa takut ataupun kecewa”.

Pada bait-bait syair tersebut penyair Rasulullah dari orang Anshar itu melukiskan kekecewaan yang dirasakan orang-orang Anshar, disebabkan Nabi saw. hanya memberikan barang-barang rampasan itu kepada sebagian shahabat sedang mereka tidak mendapat bagian apa-apa.

Pemuka Anshar Sa’ad bin Ubadah menyaksikan hal ini dan mendengar anak buahnya berbisik-bisik memperbincangkan hal tersebut. Kejadian ini tidak diaukai oleh Sa’ad, maka tampil lah ia memenuhi suara hatinya yang polos dan terus terang dan segera menemui Rasulullah saw. lalu katanya:

“Wahai Rasulullah … ! Golongan Anshar ini merasa kecewa terhadap anda melihat tindakan anda mengenai harta ram pasan yang kita peroleh! Anda membagi-bagikannya kepada kaum anda, dan mengeluarkan pemberian berlimpah kepada kepala-kepala suku Arab Quraisy, tetapi suku Anshar, tiada sedikit pun menerimanya … !”

Demikianlah laki-laki yang terus terang dan terbuka itu mengeluarkan isi hati dan perasaan yang terpendam di dada kaumnya dan memberikan kepada Rasulullah lukisan sebenarnya dari peristiwa tersebut.

Rasulullah saw. pun bertanya ke padanya:–
“Dan anda wahai Sa’ad, bagaimana pendapat anda mengenai hal itu … ?”
Artinya jika pendirian kaummu demikian, bagaimana pula pikiranmu terhadap hal itu?”
Dengan hati terbuka dan terus terang, segera Sa’ad men jawab:
“Aku ini tiada lain adalah salah seorang warga kaumku … “Kalau begitu”, ujar Nabi pula, “kumpulkanlah kemari kaummu itu … ! “

Terpaksalah kita mengikuti peristiwa itu hingga akhir ke sudahannya karena kiaahnya amat mengharukan sekali: — Sa’ad mengumpulkan kaumnya golongan Anshar. Rasulullah mendatangi mereka dan memandangi wajah-wajah mereka yang kecewa Kemudian beliau tersenyum cerah, sebagai pengaku an atas keluhuran budi mereka dan penghargaan atas jasa-jasa mereka . .. . Kemudian sabdanya: — “Wahai golongan Anshar . . – ! Segala bisikan dan getaran hati kalian mengenai diriku telah diaampaikan kepadaku, sekarang aku bertanya kepada kalian:

Bukankah ketika aku datang, kalian sedang sesat, kemudian Allah memberi petunjuk … ?
Waktu itu kalian dalam kekurangan, kemudian Allah mem beri kecukupan … ?
Kahan selalu bermusuhan, kemudian Allah menanamkan kasih sayang dalam hati kalian?
Jawab mereka, : Benar! Allah dan Rasul-Nya Maha pemberi lagi Maha Pemurah.
Sabda Rasul pula: Tidakkah kalian akan menyanggahku wahai golongan Anshar?
Sanggahan apa yang dapat kami sampaikan kepada tuan wahai Rasulullah? jawab mereka.
Maha pemurah lagi Maha pemberi adalah milik Allah dan Rasul-Nya.

Jawab Rasul: Apabila kalian mau, dapat menyatakan ke padaku, dan sanggahan itu pasti benar dan tak dapat disanggah.
Andaikan kalian menyatakan kepadaku
Dahulu tuan datang kepada kami didustakan orang, tetapi kami sambut dan kami benarkan ucapan tuan.
Tuan datang kepada kami terhina kami bela dan mengangkat tuan sebagai pemimpin.
Tuan datang terhuyung-huyung kami sambut dan merawat tuan
Tuan datang terusir, kami beri tempat dan perlindungan.

Apakah hati kalian kecewa wahai golongan Anshar, melihat sampan dunia yang kuberikan kepada segolongan manusia untuk menjinakkan hati mereka dalam beragama, sedang terhadap diri kalian kuberikan keteguhan keislaman kalian … ?

Tidakkah kalian rela wahai kaurn Anshar, orang-orang itu pulang bersama kambing dan unta, sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah ke tanah tumpah darah kalian. Demi Allah yang nyawaku berada di dalam tangan-Nya, kalau tidaklah karena hijrah, tentulah aku termasuk golongan Anshar

Andaikan orang-orang rnenempuh jalannya sendiri-sendiri pasti lah aku akan mengikuti jalannya orang-orarig Anshar . . . ! Ya Allah, berilah rahmat kaum Anshar generasi . . . . demi generasi …

Ketika itu orang-orang Anshar sama menangis, hingga janggut mereka menjadi basah. Kata-kata yang diucapkan Rasul besar yang mulia itu memenuhi rongga dada mereka dengan keten teraman, diri mereka dengan keselamatan Serta jiwa mereka dengan kekayaan . . . . Dengan serentak semua mereka .. . . termasuk dalamnya Sa’ad bin Ubadah berseru:  ”Kami ridla kepada Rasulullah, atas pembagian maupun pemberiannya … !”

Pada hari-hari pertama dari khilafah Umar, Sa’ad pergi menjumpai Amirul Mu’minin dan dengan keterusterangannya yang keterlaluan seperti biasa, katanya kepadanya:  ”Demi Allah, sahahabat anda Abu Bakar lebih kami sukai daripada anda . . . ! Dan sungguh, demi Allah, aku tidak senang tinggal berdampingan dengan anda … !”

Dengan tenang Umar menjawab: “Orang yang tidak suka berdampingan dengan tetangganya, tentu akan menyingkir daripadanya”. Sa’ad menjawab pula: “Aku akan menyingkir dan pindah ke dekat orang yang lebih baik daripada anda . . . !”

Dengan kata-kata yang .diucapkannya kepada Amirul Mu’ minin Umar itu tiadalah Sa’ad bermaksud hendak melampias kan amarah atau menyatakan kebencian hatinya! Karena orang yang telah menyatakan ridlanya kepada pembagian dan putusan Rasulullah saw. sekali-kali tiada akan keberatan untuk mencintai seorang tokoh seperti Umar, yakni selama dilihatnya ia pantas untuk dimuliakan dan dicintai Rasulullah.

Maksud Sa’ad salah seorang shahabat yang telah dilukia kan al-Quran mempunyai sifat berkasih sayang sesama mereka  ialah bahwa ia tidak akan menunggu datangnya suasana, di mana nanti mungkin terjadi pertikaian antaranya dengan Amirul Mu’minin, pertikaian yang sekali-kali tidak diinginkan dan diakuinya … !

Maka disiapkannyalah kendaraannya, menuju Syria. . . . Dan’ belum lagi ia sampai ke sana dan baru saja singgah di Haman, ajalnya telah datang memanggilnya dan mengantarkannya ke sisi TuhannyaYang Maha Pengasih ….