Al Maa’uun

Al Maa´uun

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

Itulah orang yang menghardik anak yatim,

dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat

(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya

orang-orang yang berbuat riya

dan enggan (menolong dengan) barang berguna

Surat tersebut di atas padat singkat tapi jangkauan pemikirannya meliputi segala sesuatu aktifitas . . .

Yang maha kuasa menyindir bagi umat muslim yang berwawasan sempit bahwa beragama itu bukanlah hanya semata mata syariat ( dalam tanda petik ritual )akan tetapi pelaksanan syariat tersebut melebar dalam kehidupan sehari hari.

 Dalam rukun islam ada lima perkara yang harus dilasanakan oleh umat muslim entah itu dilakukan dengan terpaksa ataupun dengan suka cita

Syahadat, sholat,zakat, puasa, naik haji jika mampu, dari lima peraturan tersebut yang empat adalah aplikasi  interaksi umat muslim dengan tuhannya sedangkan yang satu adalah interaksi umat muslim dengan sesama mahluk hidup tidak terkecuali dengan lain golongan yaitu umat umat lain yang non muslim  . . .   peraturan yang manakah itu ?

 peraturan yang mengharuskan umat muslim tidak hanya berinteraksi dengan tuhannya saja adalah membayar zakat

 Membayar zakat adalah salah satu peraturan yang di bebankan oleh yang maha kuasa bagi umat muslim

Dengan tujuan agar umat muslim tidak berinteraksi dengan tuhannya saja akan tetapi juga berinterksi dengan sesama mahluk hidup agar dirinya bisa bermanfaat kepada sesama.

 Bagi umat muslim yang berwawasan sempit membayar zakat adalah letter lux sepeti dalam syariat yaitu zakat fitrah, zakat maal, zakat uang simpanan dll sedangkan selain zakat ada kewajiban lain bagi umat islam yang tidak begitu mengikat akan tetapi diharapkan oleh yang maha kuasa agar umat muslim melaksanakan juga yaitu shodaqoh zariyah.

 Pemikiran penulis mengenai membayar zakat adalah suatu peraturan yang ditujukan bagi umat muslim yang berjiwa pelit maka dengan adanya peraturan tersebut maka mau tidak mau maka umat muslim yang berjiwa pelit tersebut harus mengeluarkan hartanya dan jika tidak mengeluarkan maka ada dam atau denda Bagi Negara Negara islam akan tetapi jika di luar Negara islam maka harta yang di miliki di kategorikan belum bersih  sebab di dalam hartanya masih ada hak bagi fakir miskin dan anak anak yatim yang belum di berikan.

 Pemikiran penulis mengenai membayar zakat bukan hanya terbatas pada syariat itu saja akan tetapi luas dan melebar yaitu jika ada seseorang anak manusia mengaku dirinya umat muslim maka dengan terpaksa maupun dengan suka rela tangannya harus selalu berada diatas entah itu dalam keadaan susah ataupun suka dalam keadaan kaya maupun miskin papah, dalam keadaan tenang maupun dalam keadaan kacau balau . .  . tangan sebaiknya harus selalu ada di atas.

 Maka timbul pertanyaan. . .  bagaimana jika dalam keadaan miskin papah? Kelemahan kedua bagi umat muslim yang berpikiran sempit yaitu segala sesuatu di ukur dari harta . . .  sedangkan untuk menjadi tangan diatas tidak harus dengan harta saja akan tetapi tenaga , kepandaian, senyum, dan selemah lemahnya iman adalah mendoakan sesama.

 Pionir kita yaitu Muhammad Rasullulah memberi contoh suri tauladan yang baik mungkin dalam dunia ini hanya beliau yang sukses dalam aplikasi membayar zakat yaitu dalam suatu cerita

 . . . Rasul saw memberikan bagian harta rampasan perang kepada para orang-orang penting Arab Quraisy yang baru masuk Islam, juga memberikan bagian kepada orang-orang Quraisy yang lain sedangkan Rasul saw tidak memberikan orang-orang Anshar bagian harta rampasan perang sedikitpun, sehingga hal ini membuat sebagian dari mereka berkomentar karena merasa bersedih di sebabkan tidak mendapatkan bagian harta rampasan perang, sehingga sebagian dari mereka mengatakan:
“Rasulullah saw telah bertemu dengan kaumnya, artinya beliau saw tidak akan mengingat kita lagi setelah Allah SWT membuka kota Mekkah dan orang-orang Quraisy masuk islam.

Mendengar hal ini, Rasul saw mengumpulkan orang-orang Anshar dan berpidato di depan mereka, maka beliau saw bersabda setelah bertahmid kepada Allah SWT dan memuji-Nya:

“Wahai sekalian orang-orang Anshar! Ada suatu ucapan dari kalian yang telah sampai kepada saya, suatu ketidakpuasan yang kalian dapatkan tentang saya dalam diri kalian? Bukankah kalian dulu adalah orang-orang yang sesat maka Allah swt. Memberikan petunjuk kepada kalian? Kalian adalah orang-orang yang fakir kemudian Allah SWT Menjadikan kalian orang-orang yang kaya? Kalian saling bermusuhan maka Allah SWT menjadikan hati kalian bersatu, mereka menjawab: benar! Allah dan Rasul-Nya adalah pemberi kebaikan dan kemuliaan kepada kami, kemudian beliau saw bersabda lagi: ‘tidakkah kalian menjawabku wahai orang-orang Anshar? Mereka mengatakan: dengan apa kami menjawabmu wahai Rasulullah? untuk Allah SWT dan Rasul-Nya pemberian dan karunia, demi Allah SWT jika  kalian mengatakan hal ini kalian akan membenarkannya, kalian mengatakan anda telah di dustakan oleh kaum anda maka kami membenarkanmu, dan kamu di usir maka kami menolongmu, dan kamu terusir maka kami menjagamu, anda fakir dan kami membantumu, apakah kalian akan mengatakan hal tersebut pada diri kalian mengenai  sesuatu yang tidak bernilai dari dunia yang aku lakukan untuk melembutkan hati orang-orang yang baru masuk Islam, sementara  kalian saya tinggalkan dengan islam karena iman kalian lebih kuat, wahai kaum Anshar! Apakah kalian tidak rela dengan berangkatnya orang-orang dengan mendapatkan unta dan kambing , sementara kalian kembali ke tempat kalian bersama Rasulullah saw? Maka Demi jiwa Muhammad saw yang berada di genggaman-Nya, seandainya bukan karena Hijrah maka saya adalah termasuk orang Anshar, seandainya seseorang berjalan dalam sebuah perjalanan dan orang-orang anshar memilih jalan yang lain maka aku akan mengikuti jalan anshar, ya Allah rahmatilah orang-orang Anshar, anak-anak anshar dan cucu-cucu kaum anshar!, maka kaum anshar menangis sehingga air matanya membasahi jenggot mereka, kemudian mereka mengatakan: “kami rela dengan pembagian Rasulullah saw.”

 Sepenggal cerita diatas adalah aplikasi dan suri tauladan yang dasyat dari pionir umat islam bahwa suatu peraturan yang di bebankankan kepada umat muslim ternyata mampu dengan sangat sempurna dialikasikan oleh nabi kita.

 Jika tangan kita selalu berada diatas ternyata harta yang begitu bayak tidak berarti apa apa jika di bandingkan dengan daya pesona kepribadian tangan diatas.

 Pribadi umat muslim saat kekurangan harta benda

Al baqarah 273. (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.

 Indah bukan kepribadian yang di bentuk oleh alqur’an sayang sekali kepribadian tersebut banyak dilaksanakan oleh orang orang non muslim sedangkan umat islam yang mempunyai kitab betolak belakang dengan ajarannya

 Maaf . . . Penulis bukan menyindir kepada para da’I ataupun para pemuka agama islam tapi jika dilihat dengan mata telanjang jika para da’I di undang untuk member ceramah agama ternyata ada amplop yang bersliweran disekitarnya sangat bertolak belakang dengan sahabat Nabi kita yaitu

MUSH’AB BIN UMAIR . Salman al-fisi, ABU DZAR AL-GHIFARI, ABDURRAHMAN BIN AUF dll

Posted from WordPress for BlackBerry.

Komentar ditutup.