Mensucikankan benda-benda yang Najis

Mensucikankan benda-benda yang Najis

Kata najaasaat adalah bentuk jama’, plural dari kata najaasah, yaitu segala sesuatu yang dianggap kotor oleh orang-orang yang bertabiat baik lagi selamat dan mereka menjaga diri darinya, mencuci pakaiannya yang terkena benda-benda yang najis termaksud. Misalnya tinja dan kencing. (Lihat ar-Raudhun Nidiyah 1: 12).
Pada asalnya segala sesuatu mubah dan suci. Oleh karena itu, barangsiapa yang menganggapnya najisnya suatu benda, …? maka harus membawa dalil yang kuat. Jika ia mengemukakan dalil, maka ia benar. Jika tidak, atau membawa dalil yang tidak bisa dijadikan hujjah maka kita harus berpegang kepada hukum asal, yaitu suci dan mubah, karena ketetapan hukum najis adalah hukum taklifi (pembebanan) yang bersifat umum. Karena itu tidak boleh memvonis najis kecuali dengan mengemukakan hujjah. (Lihat as-Sailal Jarrar 1: 31, Shahih Sunan Abu Dawud no:834 dan ar-Raudhatun Nadiyah 1:15).

Di antara benda-benda najis berdasar dalil;
1 dan 2 Air Kencing dan Kotoran manusia
Adapun kotoran orang, didasarkan pada hadits Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda : “Apabila seorang di antara kamu menginjak kotoran dengan alas kakinya, maka sejatinya debu menjadi pembersih baginya”. (Shahih: Shahih Abu Dawud no:834. Aunul Ma’bud II:47 no:38 1).
Adza ialah segala sesuatu yang menyakitkan kita, misalnya, najis, hal-hal yang kotor, batu, duri dan semisalnya (Periksa ‘Aunul Ma’bud II:44). Namun yang dimaksud di dalam hadits di atasl ialah benda najis, sebagaimana tampak jelas dan konteks hadits di atas.
Adapun kencing manusia didasarkan pada hadits Anas: “Bahwa seorang Arab Badui kencing di (pojok) dalam masjid, maka berdirilah sebagian, sahabat hendak menghalanginya, lalu Rasulullah saw.bersabda, “Biarkan ia (sampai selesai) dan jangan kamu hentikan ia!” Cerita Anas (selanjutnya) bahwa tatkala ia selesai kencing, beliau saw. minta setimba air (kepada sahabat), lalu Beliau tuangkan di atasnya.” (Mutafaqun ‘Alaih, Muslim I:236 no: 284 dan lafadz ini lafadznya, Farhul Bari X: 449 no: 6025).
3 dan 4 Madzi dan Wadi
Madzi ialah cairan bening, halus lagi lekat yang keluar ketika syahwat bergejolak, tidak bersamaan dengan syahwat, tidak muncrat, dan tidak menyebabkan kendornya syahwat orang yang bersangkutan. Bahkan tidak jarang yang bersangkutan tidak merasa bahwa dirinya telah mengeluarkan madzi, dan ini dialami laki-laki dan perempuan. (Periksa Syarhu Muslim oleh Imam Nawawi III: 213).
Air madzi hukumnya najis, karena Nabi saw. menyuruh mencuci kemaluan yang telah mengeluarkannya. Dari Ali bin Abi Thalib ra ia berkata: Aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi, dan aku merasa malu bertanya (langsung) kepada Nabi SAW karena aku suami puterinya. Lalu kuperintah al-Miqdad bin al-Aswad (menanyakannya kepada Beliau), kemudian ia bertanya kepada Beliau, lalu Beliau bersabda, “(Hendaklah) ia membersihkan kemaluannya dan (lalu) berwudhu!” (Muttafaqun ‘Alaih, Muslim 1:247 no: 303 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari I: 230 no: 132 dengan ringkas).
Adapun yang dimaksud wadi ialah cairan bening yang agak kental biasa keluar usai buang air kecil (Fiqhus Sunnah 1:24).
Hukum wadi najis, berdasarkan riwayat berikut: Dari Ibnu Abbas r.a., katanya, Mani, wadi, dan madzi, adapun mani maka harus mandi karena mengeluarkannya. Adapun wadi dan madzi, maka ia berkata, hendaklah mencuci dzakarmu atau kemaluanmu dicuci dan berwudhulah sebagaimana wudhlumu untuk shalat! (Shahih; Shahih Sunan Abu Dawud no: 190 dan al-Baihaqi 1: 115).

Posted from WordPress for BlackBerry.

Iklan

Komentar ditutup.